Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Kebebasan perempuan (termasuk ibu-ibu) untuk mendirikan dan membentuk komunitas untuk berbagi informasi bahkan memperoleh penghasilan melalui kegiatan media sosial harus didukung, selama tidak melanggar hukum, tidak boleh dihalangi. Yentriyani mengatakan, ketika masyarakat banyak yang melihat keruntuhan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19, banyak perempuan yang memikirkan ekonomi.

Perempuan, termasuk ibu-ibu, juga harus bisa membantu keuangan keluarga, apalagi jika suaminya di-PHK.

Salah satu cara agar ibu-ibu ini cepat berkembang adalah dengan bergabung dalam komunitas yang bisa bersinergi untuk menambah penghasilan. . — Beberapa komunitas ini didukung oleh perusahaan tertentu, seperti komunitas parenting Bli Bli, komunitas ibu Kumparan, ibu tertular Dancow (Nestle-Dancow), komunitas GOSIP (GoPay dan Alfamart), duta ibu (SGM Eksplor-Sarihusada) , Tim IM3 Ooredoo (Indosat).

Mereka menggunakan komunitas ini untuk berbagi informasi dan membuat jaringan yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan berkolaborasi satu sama lain.

Baca: Host Sarah Sech dan Download Cry untuk bantuan: Saya tidak pernah berada di media sosial Berbagi-Misalnya, seorang wanita yang merupakan koki pastry di komunitas dapat bertemu dengan seseorang yang dapat mengundangnya ke pesta, yang memungkinkan pasangannya memesan kue dalam jumlah banyak.

Misal, seseorang memiliki usaha di bidang perencana acara. Saat pelanggan perusahaan EO ingin memesan kue, mereka bisa langsung menghubungi bunda. Ini hanya sebuah contoh.

Andy Yentriyani meyakini bahwa faktor penting yang harus diperhatikan di masyarakat adalah etika penjualan, khususnya etika penjualan yang berkaitan dengan produk perusahaan.

Dalam hal ini, harus ada tanggung jawab perusahaan atas produk yang sedang dipromosikan di masyarakat, dan harus membuktikan bahwa produk yang dihasilkan adalah produk yang sehat.