TRIBUNNEWS.COM-Jenazah pasien korona (PDP) yang sedang dalam pengawasan dibawa secara paksa ke Makassar, Sulawesi Selatan pada jam tertentu pada Minggu pagi (7 Mei 2020). Rumah Sakit Islam Faisal di Makassar sedang kacau. -Mula-mula, keluarga pasien dipaksa mengambil jenazah pria berusia 55 tahun.

Mereka menolak untuk mengubur keluarganya sesuai dengan protokol keamanan Covid-19.

Baca: Kementrian Pertanian: Kami Tak Meminta Terlalu Banyak, Tapi Di Laboratorium, Kalung Ini Berpotensi Mematikan Virus Corona-Baca: Tentang Kalung Anticorona, Dokter: Eucalyptus Penelitian masih menempuh perjalanan panjang sebagai penangkal Covid-19-Kepala Humas Polda Makassar Supriady Idrus mengatakan bahwa kejadian tersebut bermula ketika pihak keluarga mempertanyakan bukti usapan dari korban tewas. –Namun, upaya keluarga untuk mengambil tubuh secara paksa diblokir oleh polisi. – “Kuncinya dia (keluarga) mau menunjukkan hasil negatif atau positif, jadi mau terima, tapi tidak bisa karena PDP,” kata Supriady usai konfirmasi melalui telepon: Senin (6/7/20 20) .- — Supriady mengatakan, kerabat kedua jenazah itu awalnya ditangkap polisi karena demi keselamatan mereka. e Mereka dicurigai sebagai provokator kerusuhan di rumah sakit.

Namun, setelah diperiksa, kedua penghuni tersebut dibebaskan karena merasa tulus dengan kematian anggota keluarganya. Mereka juga sangat tulus. Yang jengkel terjadi terlambat sekali, ‚ÄĚtambah Supriady.

Setelah berdebat cukup lama, Supriady mengatakan, akhirnya pihak keluarga menerima jenazah pasien PDP yang dimakamkan di pemakaman Covid-19. Sapriadi mengatakan , Ia dimakamkan di pemakaman. Macanda di Kabupaten Gowa .

“Keluarganya tidak ada masalah. Sebab, ia dimakamkan dalam perjanjian Covid-19. Pungkasnya. (Kompas.com/Himawan )- Artikel ini sempat dimuat di Kompas.com dengan judul “Pemulihan Jenazah PDP Makassar yang Memaksa. Kericuhannya, 2 orang sudah terlindungi.