TRIBUNNEWS.COM-Pernikahan AR (18) siswi SMA profesional asal Lombok Barat ini bersama kedua istrinya, F dan M, yang masih anak-anak, menghalangi gerak mereka dengan sangat lamban. Resepsi pernikahan pun digelar.

Keluarga dan lingkungan juga memberkatinya.

Masalahnya, pernikahan tiga istri minor tidak diakui oleh negara.

Dampaknya tidak sederhana. Mereka akan kesulitan mengakses layanan dasar, seperti pencatatan penduduk, pembuatan kartu keluarga, layanan kesehatan, dan bantuan sosial.

“Jika mereka tidak terdaftar seperti itu, maka mereka masih di bawah umur, yang sangat berbahaya” kata penanggung jawab departemen penjualan. Agama (KUA), Kecamatan Sekotong Fathurrahman, Senin (19 Oktober 2020).

Resiko lainnya adalah keadaan organ reproduksi yang belum matang.

Penanggung jawab KUA Sekotong Fathurrahman, QH, S.Ag, M.Sy (Tribunlombok.com/Sirtu) belajar, dan pendidikannya juga diabaikan.

Seperti kita ketahui bersama, AR masih berstatus mahasiswa profesional, kemudian F. Perempuan pertama siswi SMA dan laki-laki, istri kedua AR siswi Madrasah Aliyah (MA).

Pelajari lebih lanjut >>>>>>>>>