TRIBUNNEWS.COM-Polisi menemukan banyak tanda-tanda kekerasan pada tubuh bocah 7 tahun di Ambon berinisial SFO.

Dari hasil otopsi bocah itu, kami tahu mayatnya.

Sebelumnya, SFO menduga bahwa kematian tersebut disebabkan oleh penganiayaan oleh orang tua angkatnya.

Kemudian polisi menghancurkan kuburan korban untuk diotopsi. “Tubuh korban dilukai secara internal dan eksternal,” kata Kombes Pol Leo Nugraha Simatupang, Kapolsek Pulau Ampang dan Pulau Lease, kepada wartawan di kantornya, Rabu. (14 Oktober 2020). Seorang siswa berusia 14 tahun diduga melakukan penyerangan terhadap 3 anak laki-laki di bawah umur dan saat ini sedang ditangkap oleh polisi-Leo terungkap dari hasil otopsi sementara bahwa ia melukai punggung korban, kemudian berdarah di dada kanan dan di mata kanan. Lalu memar di dagu.

Kertas macet, pendarahan dari telinga kiri dan kanan korban, pendarahan dari hidung, memar di betis kanan, luka sobek di bibir atas dan bawah, pendarahan dari luka kecil, usus halus dan memar di paha kiri korban. Dia mengatakan: “Jika ini menyebabkan kematian korban atau alasan lain, dokter akan mengambil kesimpulan nanti.”

Orang tua angkat korban EM dan Mahkamah Konstitusi sendiri telah ditangkap dan digabungkan sejak 7 Oktober. Ditunjuk sebagai tersangka. Leo dituduh mencuri uang dan disiksa sampai mati di resepsi, dan menangkap tiga pelanggar. Menurut Leo, berdasarkan temuan penyidik, kedua tersangka mengaku sering menyiksa korban dengan tangannya atau dengan cara lain. Perlengkapan pembantu, seperti rotan dan kabel.