TRIBUNNEWS.COM-Tweet seorang pengguna internet dengan cepat menyebar setelah mengungkap pengalamannya usai mengikuti ujian Nasional (UN) beberapa tahun lalu.

Saat itu, ia menduduki peringkat pertama dalam soal ujian nasional Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. -Kemudian, Guru mengumpulkan siswa yang cerdas dan menggunakan mereka sebagai sumber kecurangan kolektif.

Kecurangan kolektif semacam ini dilakukan oleh guru, agar nama baik sekolah tetap terjaga.

Mekanisme kecurangan kolektif semacam ini juga dijelaskan dalam tweetnya. -Menurutnya, anak cerdas yang dipilih perlu memberikan jawaban kepada teman yang kurang pintar untuk bisa bersama-sama sukses. -Membaca: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyalahgunakan anggaran ujian nasional 2020 untuk menangani pandemi corona- bagi yang memberikan lembar sontekan akan mendapat jawaban berupa sanjungan dan hadiah.

Tapi mereka yang tidak ingin selingkuh akan diejek oleh teman. Menariknya, meski penulis memberi contoh, ia mengaku tidak keberatan.

Sebenarnya, menurutnya pendekatan ini “menipu publik”, dan itu normal.