TRIBUNNEWS.COM-Sejak pandemi virus corona (Covid-19), jumlah gugatan cerai yang diterima Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung di Jawa Barat berkurang drastis. Dalam database PA Bandung, sebanyak 433 tuntutan hukum telah diajukan hingga Maret 2020.

Pada April 2020, ada 103 tuntutan hukum; pada April 2020, ada 630 tuntutan hukum. Pada Mei 2020 terdapat 207 tuntutan hukum, sedangkan pada 24 Juni terdapat 706 gugatan.

Presiden Otoritas Palestina Bandung Acep Saifuddin (Bandung Acep Saifuddin) mengatakan, selama pandemi Covid-19, angka ini turun tajam. , Pelepasan alkohol – karena pemerintah memberlakukan pembatasan sosial skala besar (PSBB) dan dampak dari Otoritas Palestina dalam kebijakan Bandung tentang Covid-19, alkohol dievaluasi. Beberapa penggugat cerai datang ke Bandung (PA Bandung).

Baca: Mediasi gagal. Okan Kornelius dan May Lee akan bercerai. Jalan Terusan Jakarta, Kota Bandung, Java Barra (Jumat) (26/6/2020).

Meningkat lagi

Bersamaan dengan itu, menurut Asep, sejak beradaptasi dengan kebiasaan baru atau norma baru Sejak dimulainya periode penyesuaian, jumlah gugatan yang diajukan terhadap PA Bandung kembali meningkat.

“Jika ada kebijakan normal baru, pembukaan kembali pendaftaran akan kami selesaikan secara normal. Oleh karena itu, selain secara online, kami akan terus mengajukan karena kebijakan MA,” kata Acep.

Menurut Acep, jumlah pendaftar langsung bertambah.

Baca: Korona Lock Makin Banyak Kasus Perceraian dan Kekerasan di China Kenapa? -Bahkan lebih dari jumlah rata-rata orang per bulan sebelum Covid-19. – “Fakta membuktikan banyak penggugat, dan akan ada 706 kasus pada Juni 2020,” kata Acep. -Mengenai alasan perceraian, menurut Arthurp, alasan pelamar beragam.

“Alasan perkara perceraian tentu bermacam-macam, ada masalah keuangan, masalah litigasi, dll,” ujarnya.