Surabaya TRIBUNNEWS.COM-Polda Jatim menangkap 634 pengunjuk rasa untuk memprotes UU Komprehensif atau UU Cipta Lapangan Kerja yang berlangsung di berbagai tempat di Surabaya pada Kamis (8/10/2020) lalu, menimbulkan kerancuan dan Masyarakat merusak peralatan tersebut. 634 pengunjuk rasa, termasuk 66 anak di bawah usia 18,

akhirnya sebanyak 66 anak mendapat bantuan dari Surabaya Children’s Crisis Center (SCCC), sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk pembangunan selama hampir 20 tahun Organisasi seks. Sekretaris SCCC Tis’at Afriyandi menyayangkan hak-hak anak di Jawa Timur (khususnya Surabaya).

“Anak berhak untuk mengatakan dengan suaranya sendiri atau Tisza:” Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka anak bisa menjadi korban. “Sebagian besar anak-anak yang ikut demonstrasi tidak melakukan ini. Mereka tidak tahu apa-apa. Apa maksud para pengunjuk rasa Asia itu.

” Biasanya mereka hanya mengikutinya karena melihat pekerja sosial media atau WAG di ponsel mereka, ” Ancha Maulana, salah satu pekerja sosial SCCC, mengatakan bahwa anak-anak.

Tim SCCC dan Polda Jatim bekerja semalaman untuk mendata dan memberikan pendampingan melalui proses peninjauan.

Hindari pemeriksaan terhadap anak-anak Nanti, Mereka Diizinkan Pulang .

Baca: Menyusup ke Sekelompok Pengunjuk Rasa yang Diduga Perencana Aksi Huru-hara Bein G, Anarko itu Apa?

“Alhamdulillah, 66 yang Kami Bantu Anak-anak boleh pulang ke rumah di bawah asuhan orang tuanya, “kata Hari Purnomo, salah satu tim SCCC yang mendampingi anak. Menengok ke belakang .

Hingga pukul 19.00 WIB, terlihat banyak orang berkumpul di Jawa Timur. Di depan tugu Polres.

Kebanyakan adalah para orang tua pengunjuk rasa. Mereka ingin tahu nasib anaknya.

“Seperti hari ini (Covid-19), semua kegiatan belajar dilakukan secara online, para orang tua. Perlu lebih memperhatikan anak-anak Anda. Pengawasan harus lebih ketat, “kata Tis’at kepada para orang tua. Artikel itu dimuat di surya.co.id dengan judul 66 anak peserta protes hukum komprehensif di Surabaya dengan bantuan SCCC.