TRIBUNNEWS.COM-Dua penambang dari Banyumas, Jawa Tengah, melakukan hubungan seks sebagai suami-istri – mereka adalah remaja, lahir NA (15), perempuan kelahiran MI (14).

Semua adalah warga Banyumas Purwokerto. — Ini diungkapkan oleh kepala departemen penyelidikan kriminal polisi Yonek Berry (Bakyumas).

Membaca: Fakta bahwa kakek dan cucu telah berusia empat tahun, karena stroke mengancam Santet untuk menerima pelatihan di kantor polisi

Membaca: Fakta tentang ayah sejak lahir hingga kelahiran anak-anak yang hamil, sepertinya Itulah alasan mantan istri itu saling mencintai- “Hubungan seks dengan anak di bawah umur terjadi di sebuah hotel dekat Stasiun Purwokerto pada Juni tahun lalu,” kata Berry.

Insiden dimulai dengan memperkenalkan korban dan tersangka melalui jejaring sosial.

Lalu mereka membentuk hubungan cinta.

“Awalnya itu karena mereka saling kenal, dan kemudian terus mencintai monyet, dan kemudian bertemu. Tersangka membawa korban dan mengundangnya berjalan-jalan. Ke hotel,” jelas Bailey.

Ditambah hukuman mati, Berry mengatakan bahwa kasus itu akhirnya terungkap sebulan kemudian.

Membaca: Ada tempat parkir ayun di depan kediaman Wakil Bupati, saksi PKL-Membaca: Sodomi 5 pejabat muda telah mencari mangsa di Facebook dan taman bermain sejak 2017, dan kemudian mengundang mereka ke zona waktu-karena Orang tua korban merasa curiga karena anak-anak mereka masih depresi. Berry berkata: “Ketika orang tua mereka bertanya, korban mengatakan bahwa dia diharuskan memiliki hubungan dengan pelaku.” Menurut pengakuan kepada polisi, tersangka melakukan tindakan itu karena dia sering melihat pornografi. video.

Tersangka sering tinggal di jalanan.

Untuk tindakan ini, tersangka kriminal harus mematuhi peraturan dan ketentuan yang terkait dengan ketentuan UU No. 35 tahun 2014, Pasal 81 dan ketentuan UU No. 17, 2016 Pada tahun 2002, ketika menyangkut perlindungan anak, hukuman maksimum adalah 15 tahun penjara. (Kompas.com/Fadlan Mukhtar Zain) -Artikel ini disiarkan di Kompas.com dengan tajuk “Anak-anak pasangan Banyumas, orang tua waspada akan buahnya yang rusak”