TRIBUNJOGJA.COM-Beberapa hari yang lalu, PSIM Yogyakarta hidup dengan déjàvu seperti keputusan PSSI untuk sementara menangguhkan musim 2020 karena epidemi Covid-19.

Karena pada musim 2015, Laskar Mataram juga dipimpin oleh Seto dan Nurdiyantoro mengalami nasib yang sama, tetapi perbedaannya adalah bahwa karena sanksi FIFA dan dualisme dalam PSSI menyebabkan force majeure, permainan dibatalkan sepenuhnya.

Pada tahun 2015, PSIM Yogyakarta dan sebagian besar pemain muda harus kecewa, karena setelah persiapan panjang dan serangkaian pertandingan tes tampaknya sia-sia. -Baca: Ketahui Tiga Klub Tertua di La Liga 2 Februari 2020: Persis Solo, PSIM Yogyakarta, di PSMS Medan – Saat semua pemain siap bertarung dan merasakan pertandingan sengit dengan momentum yang tepat, karena Dibatalkan, dan wine pahit terpaksa menelan pil pahit.

Hal ini kian membosankan, karena kali ini peluncuran tim juga dilakukan dengan antusias di hadapan ratusan suporter yang memadati pabrik Wisma Soeratin Baciro .

Musim 2020 hampir sama sekarang. Pendukung Laskar Mataram tak sabar menanti kombinasi taktik taktik Seto Nurdiyantoro.

Bukan tanpa alasan para suporter menaruh harapan besar pada pelatih asal Karazhan ini, apalagi bila dicermati prestasinya. Tampil bersama tim terdekat PSS Sleman. — Meski performa tim tidak seoptimis musim 2019, kembalinya Seto Nurdiyantoro jelas membawa optimisme baru. – Gelandang PSIM Yogyakarta Raymond Tao Raymond Tauntu tak memungkiri, situasi saat ini baginya seperti Deja vu juga bagian dari klub berlogo Tugu Pal Putih 2015 itu.

“Kadang-kadang saya tidak bisa berhenti berpikir. Situasinya hampir sama seperti tahun 2015, terutama ketika Pelatih Seto juga berlatih. Saya juga berpikir bahwa situasi tim hampir sama dengan keluarga saya.”