Jakarta TRIBUNNEWS.COM, WARTAKOTALIVE.COM reporter Rafsanzani Simanjorang (Rafsanzani Simanjorang) lapor-Dua filosofi perkembangan sepak bola Indonesia diterima oleh dua pelatih berbeda, yakni Jaino Matos dari Brasil dan Mantan kiper pelatih Indonesia U Jarot Supriadi. -19 tim nasional.

Jaino Matos juga dikenal sebagai pelatih kepala dan direktur teknis pelatihan dan pendidikan Persib Bandung. Sekarang Jaino sedang membangun Oceano Football Center di Jakarta Utara.

Di saat bersamaan, Jarot Supriadi kini bergabung dengan tim Persiba Balikpapan.

“Untuk membangun sepak bola Indonesia, apalagi saat masih muda harus berubah. Sifat pemain sepak bola. Untuk menjadi pemain sepak bola harus membayar harga. Ada kerja, keringat bukan manja,” Jaino Matos mengklaim dalam pertandingan Superball dengan Jaino Matos di klinik kepelatihan. Dalam hal pendidikan karakter dan kesadaran diri pemain, kami dapat memusatkan energi kami dan berusaha untuk mewujudkan impian saya. Jaino menjelaskan bahwa pelatih bisa membuat perbedaan bagi anak-anak yang bermain sepak bola, anak-anak yang bertalenta dan ingin mewujudkan impiannya menjadi pemain sepak bola. — “ Dengan cara ini, setiap pelatih tentunya dapat menanamkan nilai kerja keras untuk mewujudkan mimpinya dan menjadi pemain sepak bola. Tentunya pendidikan juga sangat penting. Dengan cara ini, semuanya akan dilakukan, kata pemain Jeno.

Jarot muncul dengan pendekatan yang berbeda. Jarrot menuturkan anak Indonesia memiliki kepribadian yang berbeda-beda, sehingga diperlukan dua metode psikologis yang khusus untuk mengembangkan kemampuan anaknya. — Ada juga usia anak, dibahas dalam pengembangan karakter dan kerja keras, bukan anak di bawah 12 tahun, tetapi anak di atas 13 tahun. Ini bukanlah kerja keras yang berada di luar jangkauan kemampuan anak, tetapi energi dan energi yang dikerahkan anak untuk mewujudkan impian sepak bolanya.